KERAJINAN TIKAR DARI TEMPUREJO WONOSOBO; Makin Tersisih, Warga Jual Daun Mendong
kedaulatan-rakyat.com
TIKAR mendong merupakan produk kerajinan yang selama ini banyak dihasilkan oleh masyarakat Desa Tempurejo Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo. Selama ini Tempurejo memang dikenal sebagai sentra kerajinan tikar mendong yang dibuat dengan berbagai motif dan warna. Pada umumnya, mendong buatan Tumpurejo dipakai untuk alas lantai, tetapi kini banyak warga yang mengembangkannya menjadi jenis anyaman lain, seperti topi, tempat rokok dan kerajinan lain. Namun seiring perkembangan zaman, sejak beberapa tahun ini keberadaan tikar mendong dari Wonosobo semakin tersisih di pasaran. Hal itu terjadi sejak maraknya karpet dan tikar plastik yang banyak di produksi pabrik. Akibatnya, masyarakat lebih memilih membeli tikar produksi pabrik karena segi kualitas jauh lebih baik, meski harganya juga lebih mahal.
Dikatakan, Ny Muryati (35) salah seorang perajin tikar mendong, dahulu tikar mendong Tempurejo sangat terkenal dan banyak orang luar daerah datang untuk memesan. “Tetapi sejak sekitar sepuluh tahun lalu pesanan mulai sepi. Hal itu karena masyarakat cenderung lebih memilih tikar produksi pabrik,†ujarnya. Ketika pasaran tikar masih baik, lanjut Muryati, hampir semua warga di Desa Tempurejo menekuni profesi sebagai perajin tikar mendong. Namun kini, jumlah perajin semakin berkurang, bahkan sebagian di antaranya hanya menjadikannya sebagai pekerjaan sambilan. “Dulu, mebuat tikar mendong merupakan pekerjaan pokok bagi semua warga desa ini. Tetapi sekarang yang menekuni pekerjaan ini hanya dari kalangan warga yang telah berusia lanjut. Sementara yang muda lebih senang bekerja sebagai buruh atau malah pergi ke berbagai kota untuk mencari penghasilan yang lebih baik,†imbuh ujar Narto (45), perajin lain.
Terpisah, Yaskur (45) Kades Tempurejo, menyesalkan memudarnya pasaran tikar mendong Tempurejo. Sebab hal itu berdampak pada penurunan pendapatan warga. Sebelumnya, pemasaran mendong dari desa ini mampu menembus sejumlah kota, seperti Sragen, Yogyakarta, Solo, Tasikmalaya, Semarang, dan Lampung. “Bahkan di Lampung telah ada pasar khusus yang memasarkan tikar mendong Wonosobo dalam jumlah yang cukup banyak,†ujarnya. Menghadapi kenyataan saat ini, Yaskur berharap agar pemerintah kabupaten maupun propinsi memikirkan permasalahan tikar mendong Wonosobo. Apalagi bahan baku berupa tanaman mendong di Wonosobo saat ini sangat melimpah,†tegasnya. Dijelaskan, warga Tempurejo pada umumnya lebih memilih menanam mendong daripada padi atau tanaman lain. Bahkan, luas areal tanaman mendong di Desa Tempurejo mencapai kurang lebih 50 hektar. “Seiring melemahnya pasaran tikar mendong, kini warga cenderung menjual daun mendong. Hal itu dikarenakan dari sekitar 804 KK yang semula menjadi perajin tikar mendong, saat ini tinggal separohnya yang tetap menekuni profesi tersebut,†kata Yaskur. (Bagyo Harsono)-d.
Â