Interior Bernuansa Ukiran Relief Bali

Interior Bernuansa Ukiran Relief Bali

majalah handicraft/edisi 21/tahun IV/Oktober 2005

Bali tak hanya terkenal ke mancanegara sebagai tempat wisata yang indah,tetapi juga memiliki sumber kekayaan lain di sektor kerajinan.

Di Kabupaten Gianyar misalnya terdapat perajin kayu yang memiliki ciri khas dalam seni ukir relief,adalah Drs.Kt.Wiasa yang telah mencipatakan ratusan karya relief dari kayu yang dapat difungsikan sebagai product interior.

Teknik dan ketelitiannya dalam memahat berbagai jenis kayu menghasilkan suatu ukiran yang estetik,hakus dan rapi.Kejelian dalam memilih bahan baku dan sifat fisik kayu membuat kerajinannya tidak sekedar halus dfan rapi tetapi juga memperlihatkan sifat dasar,warna dan serat kayu yang begitu eksotik dan natural.

Ukuran relief kayu Bali memiliki ciri khas bertema budaya,tema lain adalah kisah pewayangan dan tradisi masyarakat Bali.Ini karena keinginan saya untuk memberi warna yang berbeda pada seni ukir relief Bali,terutama saat melihat ukiran kisah Ramayana yang menggambarkan para tokohnya”ungkap Wiasa yang ditemui majalah Handicraft Indonesia.

Menurut Wiasa,yang sejak umur 6 tahun sudah mengenal seni ukir ini,keindahan itu muncul ketika setiap individu mengingat kebudayaannya,serta mampu mengekspresikan dalam dalam bentuk ukiran walau hanya sebatas simbol-simbol kebudayaan.Ciri khas ukiran relief kayu Wiasa terletak pada serat kayu yang halus dan bahan dasar kayu yang digunakannya.”Kalau di Bali bahan baku kayu yang saya gunakan diberi nama kepalan atau dalam bahasa Jawa Timur disebut Kayu Hijau.Kayu ini tekstur seratnya lebih menonjol ,lentur dan,mudah diukir .

Gaya Modern

Keahlian yang dimiliki Kt.Wiasa dalam seni ukir tergolong istimewa.Selain dapat mengaktualisasikan budaya dan adat masyarakat Bali,Wiasa juga dapat meyajikan ukiran relief gaya modern,seperti pada tema Perjamuan,yang menampilkan suatu karya ukir relief kayu dimensional dan menyerupai bentuk aslinya,layaknya lukisan yang dituangkan pada relief ukir kayu.

Dengan ukuran terkecil 30x50x10 cm,Wiasa memberikannuansa seni ukir yang berbeda dengan karya pengrajin lain.Sentuhan akhir setiap ukirannya menggunakan pewarnaan khusus di campur dengan semir.”Hal ini saya lakukan dengan tujuan agar ukirannya terlihat gelap dan tekstur kayunya lebih menonjol.”ungkap pemilik sanggar Bukit Sedana ini.

Karena bentuknya yang imajiner dan kreatif,tidak mengherankan bila ukirannya selalu mendapatkan order,baik dalam partai kecil,maupun besar,dari pasar domestik dan lokal.”Sejak kecil saya hidup di lingkungan perajin ukiran kayu yang terkenal di Bali.Saat ini komoditas export kerajinan kayu menjadi sumber pendapatan negara di urutan kedua setelah migas.”kata Wiasa yang menamatkan pendidikannya di sekolah administrasi Denpasar ini.(ftr)

This entry was posted in Indonesia Handicraft News. Bookmark the permalink.

Comments are closed.