KERAJINAN PATUNG BOBUNG GUNUNGKIDUL; Permintaan Ekspor Kembali Mengalir

KERAJINAN PATUNG BOBUNG GUNUNGKIDUL; Permintaan Ekspor Kembali Mengalir
www.kr.co.id/Monday, 28 May 2007, Ekonomi dan Bisnis

WONOSARI (KR) – Sentra kerajinan Patung Bobung, Patuk Gunungkidul, kembali bergairah. Selain permintaan lokal membaik, pesanan dari luar negeri juga mengalir. Setahun pasca musibah gempa, kini kondisinya mulai membaik. Bantuan dari Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Propinsi DIY, membantu pemulihan sektor industri ini.

“Alhamdulillah kini sudah berangsur pulih. Bantuan alat dari Disperindagkop cukup melegakan para perajin, karena akibat bencana gempa banyak alat yang rusak akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Pesanan dari Bali juga sudah mulai berdatangan, bahkan pesanan dari Belanda dan Australia juga sudah dikirim,” kata Wagimin, pemilik kerajinan patung di Bobung, Jumat (25/5).

Berbagai jenis kerajinan mampu dihasilkan para perajin ini, seperti patung, wayang golek, topeng, almari dan hewan miniatur, kotak, aneka kerajinan batik dan suvenir. Harganya bervariasi, tergantung dari jenis dan ukurannya. Rata-rata berkisar puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Jenis yang paling laris diminati adalah bentuk topeng untuk masyarakat Bali dan patung serta suvenir untuk pengiriman ke luar negeri.

“Seluruh pekerja kini sudah mulai kembali beraktivitas sebagai perajin. Memang beberapa bulan pasca gempa sempat terhenti, karena banyak yang mengurus untuk membangun rumah serta ke tempat saudara untuk menengok. Namun perumahan warga yang sudah mulai mendapatkan perbaikan mulai ditempati, sehinggga pekerjaan utama masyarakat Bobung sebagai perajin kembali bergairah,” tambah Kemiran yang juga pemilik kerajinan patung.

Para perajin juga telah mendapatkan bantuan bibit kayu sengon laut dari berbagai pihak dan telah diserahkan kepada kelompok kerajinan di Kecamatan Patuk. Akan tetapi para perajin hingga saat ini masih mengalami kendala, karena untuk mencukupi kebutuhan bahan baku harus mendatangkan dari Pacitan dan Wonogiri, karena untuk dipenuhi dari lokal jelas tidak mencukupi. “Bibit sengon laut juga telah ditanam oleh kelompok perajin yang memperoleh bantuan, namun masih memerlukan beberapa bulan untuk dapat dimanfaatkan, sehingga untuk memenuhi permintaan, bahan baku harus mendatangkan dari Pacitan dan Wonogiri,” imbuh Wagimin.

Dihubungi terpisah Kepala Disperindagkop Gunungkidul Drs H Wagiran MM mengatakan, untuk membangkitkan sektor kerajinan dilakukan dengan memberikan bantuan peralatan seperti para perajin Bobung, sudah diberikan bantuan alat beberapa waktu yang lalu. Perhatian untuk memberikan bantuan alat ini berawal dari banyaknya peralatan perajin yang rusak akibat bencana gempa, sehingga tidak bisa digunakan.

“Syukurlah keadaan perajin kini berangsur-angsur membaik. Disperindagkop juga memberikan fasilitas pemasaran melalui berbagai kegiatan seperti pameran,” jelasnya. (*-3)-g
.

This entry was posted in Indonesia Handicraft News. Bookmark the permalink.

Comments are closed.