Asephi: Kerajinan handicraft masuk pasaran internasional

Asephi: Kerajinan handicraft masuk pasaran internasional
Wonogiri (Espos)

Asosiasi Eksportir Pengrajin Handicraf Indonesia (Asephi) Solo, mentargetkan kerajian handicraft di Soloraya akan masuk pasar internasional pada tahun 2007. Hal itu didasarkan pada banyaknya potensi limbah kayu sertifikasi di Soloraya, terutama di Kabupaten Wonogiri dan Sukoharjo.

Demikian disampaikan anggota Badan Pengurus Cabang (BPC) Asephi Solo, Sugeng Saryanto, saat ditemui Espos di sela-sela pelatihan teknik pemanfaatan limbah kayu sertifikasi di Dusun Ngebrak Kidul, Kelurahan Giriwoyo, Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri, Kamis (14/12). Pelatihan tersebut dilaksanakan bekerjasama dengan Perhimpunan Untuk Studi dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial (Persepsi) Wonogiri, dan melibatkan 20 peserta dari Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri dan Kecamatan Weru, Sukoharjo.

Menurut Sugeng, keberadaan hutan bersertifikasi ekolabel itu secara tidak langsung merupakan potensi besar dalam pengembangan industri handicraft atau kerajinan tangan di Wonogiri dan Sukoharjo. Selama ini, kata dia, pemerintah belum mengembangkan potensi yang besar tersebut. Permintaan produk handicraft, lanjutnya, selalu lari ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
”Padahal kebutuhan furnitur di pasaran internasional, terutama untuk kebutuhan indoor selalu disuplai dari Solo. Banyak celah yang kosong dalam kontainer itu selalu diisi dengan produk-produk kerajinan tangan (handicraft).
Ironisnya, Solo tidak mampu memenuhi permintaan tersebut, lantaran keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan kapasitas barang yang ada. Akhirnya permintaan itu terpaksa diambilkan dari produk-produk asal DIY.”
Sugeng menambahkan nilai nominal kerajinan tersebut lebih besar daripada nilai barang ekspor furnitur. Menurut dia, perbandingannya sebenarnya 20% untuk kerajinan dan 80% untuk furnitur. ”Meskipun nilainya hanya 20 persen, nominalnya mencapai Rp 50 juta per kontainer, sedangkan nilai nominal furnitur hanya berkisar Rp 80 juta hingga Rp 120 juta per kontainer.” – m42
sumber:www.solopos.net

This entry was posted in Indonesia Handicraft News. Bookmark the permalink.

Comments are closed.