Tanpa Desain dan Inovasi, UKM Kesulitan Pasarkan Produk
Pemko Medan akan Bangun Industri Penyamak Kulit
www.analisadaily.com
Medan, (Analisa)
Dinas Perindag Kota Medan akan menggelar pelatihan tentang desain termasuk inovasi produk bagi usaha kecil dan menengah (UKM) karena perkembangan desain saat ini sangat dinamis.
Sebab tanpa desain dan inovasi secara terus menerus terhadap produk sesuai dengan kebutuhan pasar, UKM akan mengalami kesulitan dalam memasarkan produk daerah baik di dalam maupun luar negeri.
“Sebuah desain hanya mampu bertahan sekitar 6 bulan lantas muncul desain baru. Konsumen terutama di luar negeri sangat peka dan sensitif terhadap desainâ€, kata Kadis Perindag Medan Drs HT Basyrul Kamal,MM kepada Analisa di Medan, Selasa (8/8).
Dia mengatakan pendidikan dan pelatihan (diklat) keterampilan mendesain dan inovasi produk ini berkaitan dengan rencana Pemko Medan membangun industri penyamak kulit untuk UKM persepatuan.
“Kita harus mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas kalau memang mau bersaing di pasar dalam dan luar negeri. Justru itu perlu ada arah dan kebijakan pengembangan SDM-UKM melalui diklat iniâ€, ujar Basyrul Kamal.
Menurut dia diklat desain dan inovasi digelar atas kerja sama dengan Prima Katasalindo, consultant and training centre Yogyakarta dalam waktu dekat ini.
Bukan hanya itu, lanjutnya kegiatan ini akan berkembang pula dengan keterampilan teknik produksi, networking UKM dan manajemen kelompok usaha bersama (KUBE) serta pemasaran secara terpadu.
Basyrul mempertanyakan kenapa sepatu buatan Italy misalnya enak dan nyaman dipakai. Kenapa sepatu lokal tidak. Padahal sama-sama dari kulit. Kenyamanan itu sangat tergantung dari desainnya.
SUKA
Lantas bagaimana mendesain yang bagus sesuai selera pasar. UKM persepatuan harus menguasainya di samping kualitas sepatu tetap terjaga sehingga konsumen lebih menyukai hasil produksi dalam negeriâ€, kata Basyrul.
Menyinggung tentang industri penyamak kulit, Basyrul mengatakan pembangunan industri ini sangat mendesak dalam upaya memenuhi bahan baku industri sepatu di Medan.
“Coba bayangkan para perajin sepatu di Pusat Industri Kecil (PIK) Menteng selalu mengalami kendala dalam produksi akibat pasokan bahan baku dari Pulau Jawa tersendat-sendatâ€, jelas Basyrul.
Padahal Medan sangat potensial dengan bahan baku kulit lembu dan kerbau. Hanya yang tidak memiliki industri penyamak kulit. Bahkan daerah ini memiliki banyak buaya seperti di Asam Kumbang, Sunggal.
“Di Singapura harga sebuah tas dari kulit buaya merk Fendy buatan Italy mencapai Rp 75 juta/buah. Kenapa kita tidak memproduksi tas kulit buaya. Kalau industri penyamak kulit sudah ada di Medan plus peralatan desain, apakah UKM sepatu tidak bisa bersaing di pasar globalâ€, tanya Basyrul.
Tentang pemasaran produk, dia mengatakan UKM juga harus menguasai teknologi informasi di bidang bisnis. Peluang pasar terbuka. UKM tidak hanya menunggu dari pemerintah tapi harus kreatif.
“Seperti pernah diungkapkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bahwa pemberdayaan UKM harus didasarkan prinsip pasar. Hasil dari pemberdayaan UKM tidak boleh didapat dengan mengorbankan efisiensi ekonomi. Hasil yang terbaik dapat diperoleh melalui persaingan pasar yang lebih baikâ€, tambah Basyrul Kamal. (bay)