TANAMAN PULE DI GUNUNGKIDUL SUDAH LANGKA; Perajin Topeng Beralih ke Kayu Sengon

TANAMAN PULE DI GUNUNGKIDUL SUDAH LANGKA; Perajin Topeng Beralih ke Kayu Sengon
kedaulatan-rakyat.com

WONOSARI (KR) - Para perajin topeng, patung dan berbagai cenderamata lainnya di Sentra Kerajinan kayu Bobung Putat mengalami kesulitan untuk memperoleh bahan baku kayu pule. Padahal produk kerajinan dari kayu pule selain penggarapannya lebih mudah, juga banyak diminati konsumen luar negeri, karena tidak pecah dan dan tidak mudah kena jamur.

Sebagian perajin di Bobung terpaksa memburu kayu pule sampai ke Pacitan dan Ponorogo, meskipun harganya sudah mahal. Demikian dikatakan Ketua Kelompok Perajin Kayu Bina Karya Bobung Putat Kecamatan Patut, Wagimin yang ditemui KR, baru-baru ini.

Semula kayu pule ini banyak tumbuh di sekitar Kecamatan Patuk dan beberapa wilayah lainnya di Gunungkidul, namun karena jenis kayu ini dijadikan bahan baku untuk pembuatan kerajinan kayu terutama patung dan topeng, baik di Bobung maupun beberapa sentra kerajinan lainnya, sehingga kayu jenis ini semakin habis dan kini menjadi langka. Terlebih tidak ada upaya untuk pelestarian dengan cara penanaman kembali pohon pule.

Hal senada juga diakui oleh pemilik Sanggar Kerajinan Topeng di Bobung lainnya, Supriyadi, bahwa sejak setahun ini para perajin kayu tidak lagi menggunakan bahan dari kayu pule. Selain karena sulit didapatkan, harganya juga sudah mahal, sehingga sebagian besar perajin menggunakan kayu sengon laut. “Jenis kayu ini hampir sama dan pengerjaannya juga lebih mudah,” jelasnya.

Diakui, saat ini ada beberapa perajin yang memburu kayu pule sampai ke Pacitan dan Ponorogo Jawa Timur, tetapi harga kayu di daerah itu juga sudah mahal. Biaya angkut sampai ke Bobung juga sudah mahal, sehingga jika diperhitungkan biaya produksi akan semakin mahal. Padahal harga jual produk kerajinan kayu masih tetap, karena konsumen belum mau menerima harga baru yang sesuai dengan biaya produksi pasca kenaikan harga BBM,” kata Supriyadi.

Ditambahkan oleh Wagimin, bahwa sejak awal para perajin yang jumlahnya mencapai 500 orang, baik di Bobung maupun daerah sekitarnya, sudah memikirkan akan kehabisan kayu pule. Sebab, persediaan sangat terbatas, namun tidak ada peremajaan tanaman. “Sebenarnya para perajin sudah mengusulkan kepada Dinas Kehutanan dan Perkebunan setempat agar mencarikan bibit kayu pule untuk ditanam di sekitar Desa Putat, sebagai upaya pelestarian kayu pule dan untuk reboisasi. Namun usulan tersebut belum direspons oleh dinas, sehingga saat ini tanaman sudah habis,” tambahnya.

Salah satu perajin kayu yang ada di Bunder Kecamatan Patuk, Giyadi yang ditemui secara terpisah juga mengakui bahwa sejak sulitnya memperoleh kayu pule pihaknya memanfaatkan kayu sengon laut sebagai bahan baku untuk pembuatan topeng dan patung. Pihaknya memperoleh kayu sengon dari sekitar Desa Putat, namun juga pernah mendatangkan dari Kulonprogo yang kualitas kayunya lebih baik dan tahan terhadap jamur. (Awa)-d.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.