Terlalu Andalkan Pariwisata—
Pasar Kerajinan Bali Terancam Tertinggal
www.balipost.co.id
Industri kerajinan sudah sejak lama dipercaya bisa menjadi tulang punggung perekonomian Bali. Bagaimana tidak, hampir semua pelaku usaha di Bali bergerak di sektor ini mulai skala kecil hingga besar. Bahkan, nilai ekspor kerajinan dari Bali ke mancanegara pun terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Lalu kenapa industri kerajinan Bali terkesan jalan di tempat dan sulit berkembang?
BALI di samping terkenal dengan pariwisatanya, juga sangat populer dengan kerajinan tangan bercita rasa seni tinggi. Namun, sayangnya industri kerajinan Bali belum bisa dijadikan penopang perekonomian Bali. Bila melihat data yang ada selama setahun belakangan, ekspor kerajinan tangan dari Bali memang cukup besar bahkan mendominasi realisasi ekspor. Berturut-turut selama setahun terakhir ekspor kerajinan Bali selalu menjadi penyumbang terbesar.
Tidak tanggung-tanggung dominasi industri yang ditunjang pelaku usaha kecil dan menengah ini mencapai sekitar 50 persen dari keseluruhan realisasi ekspor Bali per bulannya. Keandalan industri ini pun terbukti mampu menggeser industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang sebelum pemberlakuan bebas kuota selalu mendominasi.
Berdasarkan data yang ada di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Propinsi Bali selama tahun 2005 (Januari – Desember) terjadi kenaikan nilai realisasi ekspor kerajinan dari Bali. Jumlah kenaikan realisasi tersebut mencapai sekitar 13,22 persen jika dibandingkan periode sama pada tahun sebelumnya.
Pada 2005 lalu realisasi ekspor kerajinan mencapai 227,604 juta dolar AS, sementara sebelumnya sebesar 201,022 juta dolar AS. Dari segi volume ekspornya pun hampir sebagian besar mata dagangan yang masuk dalam kategori kerajinan tangan mengalami peningkatan. Hanya kerajinan kayu yang umumnya cukup tinggi volume ekspornya menurun sebesar 5,83 persen dari tahun 2004.
Meski dilihat dari realisasi ekspor cukup besar, bila dibandingkan dengan industri kerajinan di negara-negara lain, khususnya ASEAN, perkembangan industri kerajinan Bali agak tertinggal. Pasar kerajinan Bali masih sangat bergantung dengan industri pariwisata. Jika pariwisata maju, industri kerajinan akan ikut terdongkrak. Sebaliknya ketika pariwisata terpuruk, industri ini pun ikut-ikutan sepi order.
Kurang berkembangnya industri kerajinan Bali ini bukannya tidak disadari pemerintah. Diungkapkan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bali Mas Beratha, pembinaan terhadap perajin kecil dan menengah terus dilakukan. Namun, hasilnya tidak bisa maksimal. Penyebabnya antara lain Dekranasda yang ada di tiap kabupaten/kota masih menghadapi kendala dana. Sejauh ini, diakuinya, pembinaan dilakukan dengan keterbatasan dana tersebut. Guna membuka pasar produk-produk kerajinan ini, Dekranasda giat mengikutsertakan perajin binaannya untuk berpameran.
Istri Gubernur Bali ini mengatakan pameran merupakan kegiatan yang cukup efektif untuk menggenjot penjualan dan membuka peluang pasar baru. Ditemui usai pembukaan Pasar Kerajinan Bali di Pasar Oleh-Oleh Bali, Mas Bertha mengungkapkan pelaksanaan pameran semacam ini akan membantu para perajin untuk melakukan kontak dagang. ”Pameran-pameran yang dilaksanakan, baik di dalam negeri maupun luar negeri cukup efektif membantu perajin memasarkan produknya,” ujarnya.
Mas Beratha yang sudah cukup lama berkecimpung dalam pembinaan perajin ini mengatakan umumnya perajin terkendala permodalan. Padahal, dilihat dari produk yang dihasilkan para perajin ini, baik kualitas maupun kuantitasnya cukup bisa bersaing dengan produk luar negeri. Bali yang kaya akan kesenian tradisional, banyak memiliki produk kerajinan yang khas. Namun, karena sulitnya memperoleh modal dan masuk ke pasar, industri kerajinan Bali menjadi kurang bisa berkembang.
Tersendat-sendatnya pengembangan industri kerajinan Bali ini pun diakui mantan Ketua Asosiasi Eskportir dan Pengusaha Handicraft Indonesia (Asephi) Bali Bagus Sanjaya belum lama ini. Dia tidak menampik jika lesunya pariwisata memiliki keterkaitan erat dengan penurunan kinerja industri kerajinan. Dia mengungkapkan kontrak baru dari buyer asing kini sudah semakin menurun.
Bahkan, lanjut Sanjaya, beberapa pelaku usaha kerajinan belum mendapatkan kontrak baru. Padahal, jika melihat tahun-tahun sebelumnya, awal tahun merupakan momen terjadinya kesepakatan dagang antara buyer dengan produsen. Sementara itu, dari sisi eksternal pelaku industri kerajinan juga mesti menghadapi ketatnya persaingan pasar internasional.
Saat ini, kata Sanjaya, banyak negara yang menjadi pesaing Indonesia dalam menjual produksi kerajinan tangan. Disebutkannya, selain Cina dan India, tiga negara yakni Vietnam, Thailand, dan Myanmar juga merupakan pesaing baru yang sudah mampu menggeser pasar Indonesia secara perlahan-lahan. (iah