Patung JAS Unggulan BadungÂ
www.balipost.co.id
KABUPATEN Badung ternyata memiliki potensi yang cukup besar dalam bidang kerajinan. Jika selama ini kerajinan perak hanya dikenal di Kabupaten Gianyar (Celuk), sejatinya Badung juga memiliki sentra kerajinan itu di Bongkasa.
Demikian halnya lukisan dan kerajinan patung, Badung pun memiliki potensi di bidang itu. Bahkan, kerajinan patung produksi warga Jagapati, Angantaka dan Sedang (JAS) memiliki ciri khas dan karakter yang berbeda dibandingkan daerah lain. Patung produksi JAS ini pun ternyata sudah merambah pasar ekspor.
Tidak itu saja, Badung juga memiliki kerajinan keramik di Kapal dan Abiansemal. Semua itu merupakan potensi yang dimiliki kabupaten yang wilayahnya berbentuk keris itu, seperti dipaparkan Kadis Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Badung Dra. Ni Putu Murniati, M.M. ketika dihubungi usai pembukaan Pasar Kerajinan Bali 2006 di Pasar Oleh Oleh Bali, Jalan Raya Kuta 88 Kuta, Senin (24/4) kemarin.
Didampingi Kasubdin Industri Dewa Rai Batan, S.Tek. dan Kasubdin Perdagangan Drs. Ketut Rimpi, Murniati memaparkan, dalam menghadapi krisis ekonomi, industri rumah tangga (industri kecil) memiliki daya topang yang cukup andal. Karena itu, industri kecil terus diupayakan bertumbuh kembang di Badung.
”Industri kecil sebagai penunjang perekonomian memang andal, dan ia tidak terlalu berpengaruh terhadap krisis ekonomi,” katanya sembari menyebut di Badung tercatat 10.000 tenaga kerja terserap dalam sektor ini. Itu belum termasuk dalam industri nonformal — yang investasinya Rp 5 juta ke bawah.
Nilai ekspor Badung dalam bidang hasil kerajinan pada tahun 2003 tercatat 78.989.672 dolar AS, tahun 2004 menurun menjadi 71.310.161 dolar AS, dan tahun 2005 menurun mencapai 68.923.168 dolar AS. Sedangkan hasil industri tahun 2003 tercatat 65.198.741 dolar AS, tahun 2004 78.436.077 dolar AS dan tahun 2005 70.248.471 dolar AS.
Guna membangkitkan semangat para perajin di daerahnya, pembinaan dan akses pasar terus digalakkan. Akses pasar yang kerap dilakukan melalui pemeran-pameran kerajinan, seperti pameran di Jakarta dan kini di Pasar Oleh-Oleh Bali. Ada sekitar 10 perajin di Badung yang terlibat dalam pameran bertajuk ”Pasar Kerajinan Bali 2006” itu.
Hasil kerajinan yang dipamerkan meliputi keramik, patung, lukisan, perak, bunga kering, pernak-pernik, tas, patung dari fiber glass dan destar Bali. Dengan mengikuti pameran seperti ini, diharapkan para perajin semakin dikenal. Dengan dikenal, diharapkan produknya lebih mudah terserap pasar. ”Selama ini kami tetap melakukan pembinaan dan memberikan bantuan dana sebagai perangsang, sehingga mereka mampu bangkit yang pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraannya,” katanya.
Diakui, anjloknya kunjungan wisatawan ke Bali belakangan ini berdampak pula bagi kerajinan, terutama cenderamata. Ketika kunjungan pariwisata meningkat, tentu order cenderamata mengalami peningkatan. Tetapi kini agak lesu. Namun, produk kerajinan yang diekspor langsung sebenarnya tidak terlalu berpengaruh.
Bahkan, alat-alat permainan edukatif yang diproduksi para perajin Badung dan bunga kering tetap unggul. Selama ini beberapa produk kerajinan Badung diekspor ke sejumlah negara seperti Australia, Eropa, Jepang dan Amerika. Dikatakannya, selama ini Badung terkenal memiliki sentra tedung (payung) di Mengwi. Yang menggembirakan, berkat munculnya kreativitas perajin (dimodifikasi), produk yang selama ini menyasar konsumen lokal, belakangan sudah mampu menembus pasar ekspor.
Kata Murniati, Badung juga memiliki potensi kerajinan berupa gerabah yang dibuat oleh perajin di Banjar Basang Tamiang Kapal dan Tegal Saet. Menariknya, bahan baku pembuatan gerabah itu menggunakan tanah lokal. Gerabah buatan kedua masyarakat itu cukup mampu bersaing. Agar sebuah produk mampu bersaing dan bahkan mampu menyasar pasar ekspor, kuncinya adalah kualitas dan kontinuitas produk. Produk yang dihasilkan juga mesti berorientasi pasar (market oriented). (lun)